Antara Ilmu dan Amal
Oleh: Aep Saepulloh Darusmanwiati**
Lisensi Dokumen
Copyright Aep Saepulloh, www.indonesianschool.org
Seluruh dokumen di www.indonesianschool.org dapat digunakan,
dimodifikasi dan disebarkan secara bebas untuk tujuan bukan komersial
(nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut
penulis dan pernyataan copyright yang disertakan dalam setiap
dokumen. Tidak diperbolehkan melakukan penulisan ulang, kecuali
mendapatkan ijin terlebih dahulu dari penulis, indonesianschool.org.
Tidak diragukan lagi bahwa Islam menaruh perhatian sangat besar terhadap
ilmu. Banyak nash, baik dari al-Qur'an maupun dari al-hadits yang menjelaskan
tentang fadhailul 'ilm wal 'alim (keutamaan ilmu dan orang yang berilmu). Simak saja
misalnya firman Allah dalam surat al-Mujadalah ayat 11: "Allah akan mengangkat
derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu".
Ibnu Abbas dalam tafsirnya—sehubungan dengan ayat ini—mengatakan bahwa
derajat para ulama jauh di atas derajat orang yang beriman dengan perbandiangan
1:70 yang jarak antara satu derajat dengan derajat lainnya sama dengan perjalanan
yang menghabiskan waktu selama 500 tahun.
Saking besarnya perhatian Islam terhadap ilmu ini, hampir semua sisi
kehidupan mulai sejak lahir sampai pada saat menjelang ajal selalu ditekankan
mengenai ilmu. Perhatikan misalnya, ketika bayi baru lahir, Rasulullah menganjurkan
untuk diperkenalkan ilmu mengenal Allah, Tuhan semesta alam dan Nabi Muhammad
sebagai utusanNya melalui adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kirinya
(terlepas dari khilafiyyah boleh tidaknya hal itu dilakukan). Menginjak dewasa
sampai menjadi orang tua, juga terus dianjurkan untuk melafalkan kalimah thayyibah
melalui doa yang harus dipahami sebagai sebuah proses pembelajaran. Bahkan, doa
sapu jagat yang sering kita ucapkan, juga merupakan permohonan untuk diberikan
ilmu karena kata fiddunya hasanah dalam doa dimaksud ditafsirkan oleh para
mufassir, sebagaimana dikutip Imam al-Ghazali dalam al-Ihya, dengan ilmu dan
ibadah. Menjelang ajal sekalipun tetap dianjurkan untuk berilmu melaui talqin
kalimah thayyibah, menuntun si sakit untuk tetap mengenal dan menghadirkan Allah
Yang Maha Kuasa. Oleh karena itulah, dalam sebuah hadits dikatakan: "Carilah ilmu
sejak mulai dari buaian sampai menjelang ajal".
Dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang berilmu jauh di atas tukang
ibadah yang jahil (bodoh). "Keutamaan orang yang berilmu atas orang yang rajin
beribadah ibarat keutamaan bulan purnama atas semua bintang". Bahkan dalam
hadis lain disebutkan: "Tidurnya orang yang berilmu lebih utama daripada
ibadahnya orang yang bodoh". Kedua hadits ini harus dipahami bahwa seorang alim
(orang yang berilmu) lebih utama dari seorang abid (tukang ibadah) lantaran
bagaimana mungkin seseorang dapat melaksanakan ibadahnya secara benar kalau
tidak tahu ilmunya. Sementara si alim, tidurpun berdasarkan ilmunya.
Setelah kita memperhatikan nash-nash yang menjelaskan keutamaan orang
yang berilmu, kini marilah kita simak salah satu sabda Nabi Saw berikut ini:
"Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya kelak di hari kiamat adalah
orang yang berilmu akan tetapi ilmunya tidak bermanfaat" (HR. Ahmad dan
Baihaki). Demikian juga masih dalam riwayat yang sama, Rasulullah bersabda: 2
"Kelak penduduk neraka akan berteriak-teriak sambil menutup hidung mereka.
Mereka mengatakan: "Siapa kamu ini, mengapa tubuh kamu sangat bau seperti ini?
Kami sudah sangat pedih dengan siksa ini, kini kamu tambah dengan aroma bau
kamu yang menyengak". Orang itu lalu berkata: "Dulu waktu di dunia saya ini
adalah orang yang berilmu akan tetapi ilmu saya ini tidak bermanfaat".
Bila hadits-hadits sebelumnya menerangkan keutamaan orang yang berilmu,
maka dalam dua riwayat ini justru sebaliknya; mencela dan menyiksa orang yang
berilmu yang dengan ilmunya tidak mendatangkan manfaat baik bagi dirinya sendiri
maupun bagi orang lain. Kedua riwayat ini juga sekaligus mengisyaratkan bahwa
dalam Islam tujuan mencari ilmu adalah untuk diamalkan bukan sekedar penghias
bibir, pemoles kata dan bukan pula semata untuk mencari harta. Ilmu yang didapat
harus dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun untuk orang lain. Bermanfaat bagi
diri sendiri dimaksudkan mampu membimbing diri ke arah yang lebih baik,
mengubah diri dan laku ke arah yang lebih diridhai-Nya. Bermanfaat bagi orang lain
dapat diartikan mampu memberikan atsar (efek baik) kepada orang-orang dalam
menuju kehidupan yang lebih bernilai di sisi Allah Swt. Dengan bahasa lebih mudah,
orang menuntut ilmu adalah untuk beramal.
Oleh karena itu, dalam kitab Durratun Nashihin disebutkan bahwa ilmu
merupakan kumpulan dari huruf ain, lam dan mim yang masing-masing mempunyai
makna tersendiri. Huruf pertama, ain, merupakan singkatan dari 'illiyyin yang berarti
bahwa orang yang berilmu akan memperoleh kedudukan yang tinggi di sisi Allah
sebagaimana firmanNya dalam surat al-Mujadalah ayat 11; "Allah akan mengangkat
derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu".
Namun, derajat 'illiyyin dapat diraih setelah dia dapat melaksanakan dua tahap
sebelumnya yaitu, luthf (huruf kedua, lam) dan mulk (huruf ketiga, mim). Sifat luthf
yang dimaksud adalah sifat lembut, tawadhu, tidak sombong dengan ilmu yang
dimilikinya. Dia selalu yakin bahwa ilmu yang didapat bukan untuk disombongkan
tapi untuk diamalkan. Sedangkan makna mulk adalah mampu menguasai diri
(mengendallikan diri). Bila orang tersebut cepat emosi, sering melakukan dosa dan
kesalahan, maka menurut pengarang Durratun Nasihin dia belum cocok disebut 'alim
karena dia belum mampu mengendalilkan diri dan hawa nafsunya. Dan secara
otomatis, derajatnya tidak illiyyin di sisi Allah Swt.
Apa yang disodorkan pengarang Durratun Nasihin ini, sesungguhnya hendak
memperkokoh bahwa ilmu memang harus berwujud dalam laku (amal). Dari sini kita
dapat menarik benang merah bahwa ilmu dan amal adalah dua hal yang tidak dapat
dipisahkan. Ilmu adalah untuk amal dan amal harus berdasarkan ilmu. Hadits yang
mengatakan 'tidurnya orang yang berilmu lebih baik dari pada ibadahnya orang yang
jahil' sebagaimana telah disebutkan di atas, mengisyaratkan bahwa setiap amal
memang harus berdasarkan ilmu. Betapa rajinnya seorang 'abid beribadah, bila ia
melaksanakannya tanpa ilmu, bukan saja tidak akan diterima malah akan mendapat
siksa. Sebaliknya, betapa banyaknya ilmu yang dimiliki seseorang, namun bila tidak
berwujud dalam amal perbuatan, juga hanya akan menabur siksa kelak di hari akhir.
Karena itu, Islam sesungguhnya bermaksud mendorong ummatnya untuk berilmu
amaliyyah (berilmu untuk diamalkan) dan beramal ilmiyyah (beramal berdasarkan
ilmu).
Berkaitan dengan masalah ilmu dan amal ini, marilah kita simak penuturan
Imam al-Ghazali dalam buku kecilnya yang berjudul Khulashah at Tashanif fit
Tasawwuf. Buku yang awalnya berbahasa Parsi, dan dialihbahasakan ke dalam
bahasa Arab oleh Muhammad Amin al-Kurdi an-Naqsabandi ini merupakan jawaban
terhadap keluhan salah seorang muridnya. Dalam keluhannya itu, sang murid 3
mengadu bahwa ia telah menghabiskan semua masanya untuk terus mencari berbagai
disiplin ilmu. Namun setelah ilmu itu diraih, ia bingung mana diantara ilmu tersebut
yang dapat memberinya hidayah sekaligus bekal kelak di akhirat. Ia lalu memohon
nasihat, petunjuk dan doa dari gurunya, Imam al-Ghazali. Berikut saya terjemahkan
point-point penting dari jawaban Imam al-Ghaali dimaksud.
"Wahai anakku, sesungguhnya semua nasihat dari para shalihin terdahulu
semuanya sudah tertulis dalam hadits Nabi. Cukup semua itu kamu jadikan pelajaran
dan nasihat.
Wahai anakku, dikisahkan bahwa sepeninggal al-Junaid (seorang sufi
besar=pent.), para sahabat dekatnya bermimpi bertemu dengannya. Para sahabatnya
lalu bertanya: "Apa yang telah Allah perbuat kepada kamu?" Al-Junaid menjawab:
"tidak berguna semua isyarat itu, tidak berfaidah semua ungkapan-ungkapan itu,
tidak bermanfaat ilmu-ilmu itu, tidak membantu catatan-catatan itu, akan tetapi yang
membantu dan bermanfaat bagi kami hanyalah shalat yang kami lakukan di tengah
malam".
Ketahuilah dengan yakin wahai anakku, ilmu saja tanpa amal tidak akan
menyelamatkan kamu kelak di hari kiamat. Coba kamu bayangkan, bagaimana
menurut kamu, seorang tukang perang yang memiliki 10 pedang dan ratusan anak
panah berikut busurnya, lalu tiba2 dihadang seekor harimau besar, apakah semua
senjatanya dapat menolong dia dengan sendirinya tanpa ia pergunakan? Kamu tentu
secara yakin akan menjawab tidak. Demikian juga halnya jika seseorang mengetahui
100.000 masalah akan tetapi ia tidak mengamalkannya satu pun, maka anda pun tahu,
semua ilmunya itu tidak ada faidah buat dia sedikitpun.
Anakku, setiap hari hatimu selalu diseru—meskipun kamu tidak mendengar—
"ma tashna'u bi ghairi wa anta mahfufun bi khairi", "mengapa kamu tega berbuat
untuk selain-Ku, padahal kamu selalu dikelilingi kebaikan-Ku".
Anakku, ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu adalah asing.
Karena jika ilmu tidak menjauhkan kamu dari ma'siat, maka kelak ia tidak akan
menjauhkan kamu dari neraka jahannam. Jika hari ini kamu tidak beramal shalih,
maka kelak di hari kiamat kamu akan berkata: "Ya Allah kembalikan kami ke dunia
niscaya kami akan berbuat baik". Lalu akan dikatakan kepadamu: "Apakah kami tidak
memberikan umur kepadamu".
Anakku, jangan pernah lupa, bawalah ruhmu dalam taat sebelum ruhmu lari
dari jasad (mati). Ketahuilah, dunia hanyalah persinggahanmu sementara sampai
suatu saat kamu pindah ke kubur. Mereka ahli kubur setiap detik menunggumu.
Berhati-hatilah jangan sampai kamu pergi kepadanya tanpa bekal.
Anakku, jika ilmu saja tanpa amal cukup bagimu, apa yang akan kamu
katakan ketika penyeru berkata: "Apakah termasuk orang yang bertaubat, orang yang
meminta ataukah termasuk orang yang memohon ampun?". Dalam hadits Shahih
dikatakan ketika setengah malam sudah berlalu, dan saat orang-orang tidur lelap,
Allah menyeru: " Apakah termasuk orang yang bertaubat, orang yang meminta
ataukah termasuk orang yang memohon ampun?". Karena itu, Rasulullah
menganjurkan ummatnya agar setiap malam shalat, dzikir dan memohon ampun.
Janganlah kamu terlalu banyak tidur pada malam hari karena akan membuat kamu
fakir kelak di hari kiamat.
Sufyan at-Tsauri pernah berkata: "Jika awal malam tiba, dari bawah arasy
terdengar seruan: "Apakah tukang-tukang ibadah bangun?" Maka berdirilah mereka
dan merekapun melaksanakan shalat. Bila tengah malam tiba, terdengar seruan lagi:
"Apakah hamba-hambaKu yang tunduk telah bangun?" Bangun pula lah mereka dan
kembali melakukan shalat malam sampai waktu sahur tiba. Bila waktu sahur tiba, 4
terdengar lagi seruan: "Apakah orang-orang yang memohon ampun telah bangun?"
Berdiri pula lah mereka memohon ampun sampai datang waktu fajar. Bila waktu fajar
tiba, terdengar kembali seruan: "Apakah orang-orang lalai telah bangun?" Bangunlah
mereka dari tempat tidur masing-masing seperti ketika dibangunkannya orang yang
telah mati kelak dari kubur.
Anakku, renungkanlah nasihat lukman: "Wahai anakku, janganlah kamu
jadikan ayam-ayam itu lebih geliat dari pada kamu. Ia kongkorongok, berkokok pada
waktu sahur sementara kamu masih tidur.
Anakku, banyak hal yang tidak cukup saya jelaskan dengan ucapan dan tulisan
karena dia sifatnya filling (dzauqi). Semua yang bersifat filling tidak bisa dicapai
dengan lisan dan tulisan tapi harus melalui amal perbuatan, praktek. Ketika kamu
hendak menjelaskan pada seseorang apa itu pahit, manis, maka semua itu tidak cukup
dengan lisan dan tuisan tapi harus langsung melalui amal perbuatan, mencoba.
Anakku, jika orang yang impoten menanyakan bagaimana nikmatnya jima'
(hubungan badan), maka jawaban lisan dan tulisan tidaklah cukup baginya, tapi harus
melalui praktek langsung.
Anakku, al-Syibli (seorang sufi besar=pent.) pernah berkisah bahwa dia telah
berguru kepada 400 syaikh, juga sudah membaca lebih dari 4000 hadits, akan tetapi
dari sekian banyak hadits di atas ia hanya memilih satu hadits saja dan meninggalkan
yang lainnya. Ia melihat hadits tersebutlah yang dapat dijadikan petunjuk untuk
meraih keselamatan kelak di hari akhir. Hadits tersebut adalah:
إﻋﻤﻞ ﻟѧﺪﻧﻴﺎك ﺑﻘѧﺪر ﻣﻘﺎﻣѧﻚ ﻓﻴﻬѧﺎ واﻋﻤѧﻞ ﻵﺧﺮﺗѧﻚ ﺑﻘѧﺪر ﺑﻘﺎﺋѧﻚ ﻓﻴﻬѧﺎ واﻋﻤѧﻞ ﷲ
ﺑﻘﺪر ﺣﺎﺟﺘﻚ إﻟﻴﻪ واﻋﻤﻞ ﻟﻠﻨﺎر ﺑﻘﺪر ﺻﺒﺮك ﻋﻠﻴﻬﺎ.
"Berbuatlah untuk urusan duniamu menurut ukuran berapa lama kamu tinggal di
dalamnya. Berbuatlah untuk akhiratmu menurut ukuran kekekalan kamu tinggal di
dalamnya. . Berbuatlah untuk Allah menurut kebutuahanmu kepadaNya dan
berbuatlah untuk neraka menurut ukuran kesabaranmu di dalamnya."
Anakku, pahamilah hakikat dari ibadah dan tha'ah. Apa itu ibadah? Ibadah
adalah mengikuti petunjuk Syari (Allah dan RasulNya) baik yang menyangkut
perintah maupun larangan. Apabila kamu melakukan suatu perbuatan yang tidak ada
perintahnya dari Syari', maka itu bukan ibadah, meskipun perbuatan tersebut dalam
bentuk dan wujud ibadah. Bahkan, terkadang sesungguhnya perbuatan tersebut
hakikatnya adalah sebuah perbuatan maksiat, meskipun dalam wujud puasa atau
shalat. Bukankah orang yang berpuasa pada hari Tasyriq atau pada hari raya Idul Fitri
dan Adha dipandang sebagai orang yang berdosa? Padahal ia melakukannya dalam
bentuk ibadah. Kenapa demikian? Karena tidak ada perintah dari syari'. Demikian
juga, orang yang shalat pada waktu-waktu yang dimakruhkan atau di tempat-tempat
hasil dari perbuatan ghasab, ia tetap dipandang sebagai pembuat dosa.
Sebaliknya, apabila seorang suami bercanda dengan isterinya, maka ia
berpahala meskipun perbuatan tersebut dalam bentuk canda. Kenapa? Karena
bercanda dengan isteri dan mahram lainnya adalah diperintahkan. Oleh karena itu,
maka hakikat ibadah adalah melaksanakan perintah, bukan semata shalat atau puasa.
Karena shalat dan puasa itu tidak menjadi ibadah apabila tidak diperintahkan.
Anakku, ketahuilah bahwa yang disebut dengan tasawwuf adalah melekatnya
dua komponen penting dalam diri seseorang: jujur kepada Allah (al-shidqu ma'allah)
dan bermuamalah dengan baik terhadap sesama manusia. Setiap orang yang jujur
kepada Allah dan bermuamalah secara baik dengan sesama manusia, maka ia disebut 5
dengan seorang sufi (ahli tasawuf). Jujur kepada Allah maksudnya adalah merelakan
kepentingan pribadi demi perintah Allah. Sedangkan yang dimaksud dengan
bermuamalah dengan baik adalah senantiasa mengutamakan kepentingan mereka
(orang lain) dari pada kepentingan diri sendiri, selama kepentingan mereka itu selaras
dengan ketentuan syara.
Anakku, tahukah kamu apa yang dimaksud dengan hakikat dari penyembahan
kepada Allah? Ia adalah upaya untuk selalu menghadirkan Allah dalam segala gerak
gerik hamba tanpa ada pikiran dan rasa apapun dari selainNya. Dan hal ini tidak akan
tercapai kecuali dengan tiga hal: 1) senantiasa bergegas dalam melaksanakan
perintaNya, 2) ridha atas qadha dan qadar juga pembagian dari Allah, dan 3)
menghindari rasa menyesal atas pilihan yang telah diberikan oleh Allah kepadamu
sekalipun pilihan itu bukan pilihanmu.
Anakku, tahukah kamu apa itu tawakkal? Tawakal adalah kamu betul betul
yakin bahwa apa yang sudah menjadi bagian kamu, pasti akan sampai kepadamu
sekalipun semua penghuni dunia ini menghalanginya. Demikian juga, apa yang bukan
bagian kamu, tidak akan pernah sampai kepadamu meskipun seluruh penghuni dunia
ini turut membantumu.
Anakku, tahukah kamu apa itu ikhlas? Ikhlas adalah upaya untuk menjadikan
seluruh perbuatan kamu hanya karena Allah, dalam pengertian, tidak terbesit
sedikitpun dalam hati kamu untuk memperoleh balasan, pujian atau apapun dari
sesama manusia, baik ketika sedang melakukan perbuatan tersebut maupun
setelahnya. Di antara ciri keikhlasan adalah, kamu tidak merasa bahagia dan bangga
dengan pujian dari manusia, juga kamu tidak merasa bersedih hati, kecewa tatkala
mereka mencela dan menghina kamu. Berlakulah biasa dan sama dalam dua keadaan
tersebut.
Anakku, bila suatu saat seorang penguasa hendak berkunjung ke rumahmu,
maka kamu akan memoles dan menata dengan baik semua benda yang diyakini akan
dilihat oleh penguasa tersebut. Bila dengan penguasa saja seperti itu, maka apalagi
dengan Allah. Bukankah dalam sebuah hadits Rasulullah pernah bersabda, bahwa
Allah hanya akan melihat hati dan amalmu dan bukan harta serta kecantikanmu? Bila
tahu itu, maka kamu harus segera memperindah, mempersiapkan sebaik mungkin hati
dan amal kamu sebelum Allah datang "berziarah" kepadamu.
Terakhir, wahai anakku, saya ajarkan kepada kamu sebuah doa yang
sebaiknya kamu baca sesering mungkin terutama setelah shalat. Semoga dengan do'a
ini dapat membantu kamu untuk terus beramal:
اَﻟﱠﻠﻬُѧѧﻢﱠ إِﻧﱢѧѧﻲ أَ ﺳْ ѧ ѧ ﺄَ ﻟُ ﻚَ ﻣِ ѧ ѧ ﻦَ ا ﻟ ﻨﱢ ﻌْ ﻤَ ѧ ѧ ﺔِ ﺗَﻤَﺎﻣَﻬَѧѧﺎ, وَ ﻣِ ѧ ѧ ﻦَ ا ﻟْ ﻌِ ѧ ѧﺼْ ﻤَ ﺔِ دَوَاﻣَﻬَѧѧﺎ, وَ ﻣِ ѧ ѧ ﻦَ ا ﻟ ﺮﱠ ﺣْ ﻤَ ѧ ѧ ﺔِ
ﺷُﻤُﻮْﻟَﻬَﺎ, وَ ﻣِ ﻦَ اْ ﻟ ﻌَ ﺎ ﻓِ ﻴَ ﺔِ ﺣُﺼُ ﻮْ ﻟََ ﻬَ ﺎ. وَ ﻣِ ﻦَ ا ﻟْ ﻌَ ﻴْﺶِ أَ رْ ﻏَ ﺪَ ﻩْ, وَ ﻣِ ﻦَ ا ﻟْ ﻌُﻤْ ﺮِ أَ ﺳْ ѧ ﻌَ ﺪَ ﻩْ, وَ ﻣِ ѧ ﻦَ
اْﻹﺣْﺴَﺎنِ أَ ﺗَ ﻤً ﻪْ, وَ ﻣِ ﻦَ ْ اِ ﻹ ﻧْ ﻌَ ѧ ﺎ مِ أَ ﻋَ ﻤﱠ ѧ ﻪْ, وَ ﻣِ ѧ ﻦَ ا ﻟْ ﻔَ ѧﻀْ ﻞِ أَ ﻋْ ﺬَ ﺑَ ѧ ﻪْ, وَ ﻣِ ѧ ﻦَ ا ﻟﱡ ﻠ ﻄْ ѧ ﻒِ أَ ﻗْ ﺮَ ﺑَ ѧ ﻪْ,
وَ ﻣِ ﻦَ ا ﻟْ ﻌَ ﻤَ ﻞِ أَﺻْ ﻠَ ﺤَ ﻪْ, وَ ﻣِ ﻦَ ا ﻟْ ﻌِ ﻠْ ﻢِ أَ ﻧْ ﻔَ ﻌَ ﻪْ, وَ ﻣِ ﻦَ ا ﻟ ѧ ﺮﱢ زْ قِ أَ وْ ﺳَ ѧ ﻌَ ﻪْ. اَ ﻟﱠ ﻠ ﻬُ ѧ ﻢﱠ آُ ѧ ﻦْ ﻟَ ﻨَ ѧ ﺎ وَﻻ
ﺗَ ﻜُ ﻦْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ. أَ ﻟﱠ ﻠُ ﻬُ ﻢﱠ ا ﺧْ ﺘِ ﻢْ ﺑِ ﺎ ﻟ ﺴﱠ ﻌَ ﺎَ دَ ةِ ﺁﺟَﺎﻟَﻨَﺎ, وَ ﺣَ ﻘﱢ ﻖْ ﺑِ ﺎ ﻟ ﺰﱢ یَ ﺎ دَ ةِ أَ ﻋْ ﻤَ ﺎ ﻟَ ﻨَ ﺎ, وَ ا ﻗْ ﺮِ نْ ﺑِ ﺎ ﻟْ ﻌَ ﺎِ ﻓ ﻴَ ѧ ﺔِ
ﻏَﺪْوَﻧَﺎ وَﺁﺻَﺎﻟَﻨَﺎ. وَ ا ﺟْ ﻌَ ﻞْ إِﻟَﻰ رَ ﺣْ ﻤَ ﺘِ ﻚَ ﻣَﺼِﻴْﺮَﻧَﺎ وَ ﻣَ ﺂ ﻟَ ﻨَ ѧ ﺎ, وَ اﺻْ ѧ ﺒِ ﺐْ ﺳَ ѧ ﺠﱠ ﺎ لَ ﻋَ ﻔْ ѧ ﻮِ كَ6
ﻋَﻠَﻰ ذُ ﻧُ ﻮْ ﺑِ ﻨَ ѧ ﺎ, وَ ﻣُ ѧ ﻦﱠ ﻋَﻠَ ﻴْ ﻨَ ѧ ﺎ ﺑِ ﺈِﺻْ ѧ ﻼ حِ ﻋُ ﻴُ ﻮْ ﺑِ ﻨَ ѧ ﺎ. وَ ا ﺟْ ﻌَ ѧ ﻞِ اﻟﺘﱠﻘْѧﻮَى زَ ا دَ ﻧَ ѧ ﺎ, وَ ﻓِ ѧ ﻰ دِیْﻨِѧﻚَ
ا ﺟْ ﺘِ ﻬَ ﺎ دَ ﻧَ ﺎ, وَ ﻋَ ﻠَ ﻴْ ﻚَ ﺗَﻮَآﱡﻠَﻨَﺎ وَ ا ﻋْ ﺘِ ﻤَ ﺎ دَ ﻧَ ﺎ. إِﻟَﻬَﻨَﺎ ﺛَﺒﱢﺘْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻧَ ﻬْ ﺞِ اْ ﻹ ﺳْ ﺘِ ﻘَ ﺎ ﻣَ ﺔِ, وَأَﻋِﺬْﻧَﺎ ﻣِ ѧ ﻦْ
ﻣُﻮْﺟِﺒَѧѧѧﺎتِ ا ﻟ ﻨﱠ ﺪَ ا ﻣَ ѧ ѧ ѧ ﺔِ یَѧѧѧﻮْمَ ا ﻟْ ﻘِ ﻴَ ﺎ ﻣَ ѧ ѧ ѧ ﺔِ. وَﺧَﻔﱢѧѧѧﻒْ ﻋَﻨﱠѧѧѧﺎ ﺛَ ﻘْ ѧ ѧ ѧ ﻞَ ا ﻷ وْ زَ ا رِ, وَاْرزُﻗْﻨَѧѧѧﺎ ﻋِ ﻴ ѧ ѧ ѧ ﺸَ ﺔَ
ا ﻷ ﺑْ ѧ ѧ ﺮَ ا رِ. وَاآْﻔِﻨَѧѧﺎ وَ اﺻْ ѧ ѧ ﺮِفْ ﻋَﻨﱠѧѧﺎ ﺷَ ѧ ѧ ﺮﱠ ا ﻷ ﺷْ ѧ ѧ ﺮَ ا رِ. وَ أَ ﻋْ ﺘِ ѧ ѧ ﻖْ رِﻗَﺎﺑَﻨَѧѧﺎ وَ رِ ﻗَ ѧ ѧ ﺎ بَ ﺁﺑَﺎﺋِﻨَѧѧﺎ
وَ أُ ﻣﱠ ﻬَ ﺎ ﺗِ ﻨَ ﺎ ﻣِ ﻦَ ا ﻟ ﻨﱠ ѧ ﺎ رِ وَ ا ﻟ ѧ ﺪﱠ یْ ﻦِ وَ ا ﻟْ ﻤَ ﻈَ ѧ ﺎ ﻟِ ﻢِ یَѧﺎ ﻋَ ﺰِ یْ ѧ ﺰُ یَѧﺎ ﻏَ ﻔﱠ ѧ ﺎ رُ, یَѧﺎ آَ ѧ ﺮِ یْ ﻢُ یَѧﺎ ﺳَѧﺘﱠﺎرُ, یَѧﺎ
ﺣَ ﻠِ ﻴْ ﻢُ یَﺎ ﺟَ ﺒﱠ ﺎ رُ ﺑِ ﺮَ ﺣْ ﻤَ ﺘِ ﻚَ یَﺎ أَ رْ ﺣَ ﻢَ ا ﻟ ﺮﱠ ا ﺣِ ﻤِ ﻴْ ﻦَ. وَﺻَ ѧ ﻠﱠ ﻰ ا ﷲُ ﻋَ ﻠَ ѧ ﻰ ﺧَ ﻴْ ѧ ﺮِ ﺧَ ﻠْ ﻘِ ѧ ﻪِ ﻣُ ﺤَ ﻤﱠ ѧ ﺪٍ
وَ ﺁ ﻟِ ﻪِ وَﺻَ ﺤْ ﺒِ ﻪِ أَ ﺟْ ﻤَ ﻌِ ﻴْ ﻦَ, وَ ا ﻟْ ﺤَ ﻤْ ﺪُ ﻟِ ﻠﱠ ﻪِ رَ بﱢ ا ﻟْ ﻌَ ﺎ ﻟَ ﻤِ ﻴْ ﻦَ. ﺁ ﻣِ ﻴْ ﻦْ.
Artinya: "Ya Allah, aku memohon kepadaMu nikmat yang sempurna, perlindungan
yang lama, rahmat yang tidak pernah sirna dan maafMu selamanya. Ya Allah, aku
memohon kepadaMu kehidupan yang paling melimpah, umur yang paling bahagia,
kebaikan yang paling sempurna, nikmat yang paling cukup, karunia yang paling baik,
kelembutan yang paling dekat, amal yang paling shaleh, ilmu yang paling bermanfaat
dan rizki yang paling leluasa. Ya, Allah, jadilah Eukau pelindung kami dan jangan
Eukau menjadi musuh kami. Ya Allah, akhiri umur kami dengan kebahagiaan,
wujudkan perbuatan kami sebagai tambahan kebaikan, temani langkah dan gerak
kami dengan maafMu, jadikan tempat kembali dan tujuan kami hanyalah rahmatMu,
curahkanlah atas dosa-dosa kami pengampunanMu, karuniailah dan gantilah dengan
kebaikan semua cacat-cacat kami. Ya Allah, jadikanlah taqwa sebagai bekal kami,
agama sebagai tempat kesungguhan kami, dan hanya kepadaMu kami bertawakal dan
bergantung. Ya Allah, tetapkan kami dalam istiqamah, lindungi kami dari penyesalan
kelak di hari Kiamat. Ringankan semua dosa dan kesalahan kami yang begitu banyak
dan berat, berikan kepada kami kehidupan orang-orang shaleh. Hindarkan dan
jauhkan Ya Allah, dari semua tipu daya dan usaha orang-orang jahat. Ya Allah,
bebaskan keluarga kami, keluarga bapak dan ibu kami dari siksa api neraka. Bebaskan
kami dari hutang yang melilit dan dari perbuatan orang-orang dhalim, karena
sesungguhnya Eukau Maha Gagah dan Pengampun, Eukau Maha Dermawan dan
Maha Penutup (aib), Eukau Maha Sabar dan Kuasa. Semua itu adalah karena rahmat
(kasih saying)Mu ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Semoga Allah
senantiasa memberikan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga
dan para sahabatnya semuanya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga
Allah mengabulkan semua doa kami."
Demikian, di antara nasihat Imam Ghazali untuk kita pencari ilmu. Mari kita
coba wujudkan semangat ilmu untuk amal dan amal berdasarkan ilmu, agar kita dapat
meraih kebahagian di dunia dan di akhirat. Amin. Wallahu a'lam.
**Makalah ini dipresentasikan khusus buat adik-adik tercinta, teman-teman
seperjuangan, siswa-siswi SIC (Sekolah Indonesia Cairo) dalam pengajian remaja
rutin hari Sabtu. Semoga bermanfaat, amin.
Senin, 13 Desember 2010
Ilmu dan Amal serta Iman
Bismillahirrohmannirrohiim
Orang Islam mempunyai 3 perkara yang mesti dimiliki :
1. ILMU
2. AMAL
3. IMAN
Sebelum menjadi seorang islam mesti lah memiliki ilmu ke islaman yang lengkap ,setelah lengkap dengan ilmu ,barulah beramal dengan ilmu itu,dengan beramal dengan ilmu, barulah datang iman,makam amal adalah ilmu makam iman adalah amal, dengan adanya ini barulah islam sejati, sama sama kita merenung sejenak,...:
Bermulanya usul ma'rifat ini ialah untuk mentakrifkan hal keadaan kita di dalam masa kita beramal. Sesudah kita faham di atas segala- gala rukun dan jalan-jalan di dalam hal keadaan agama Islam, barulah kita memulakan segala amalan. Seperti sabda Rasulullah SAW, ertinya : " Bermula sembahyang ( solat ) itu ada tiga bahagian :
1. Sembahyang orang-orang Mubtadi Yakni semata-mata ia untuk menutupkan fitnah dunia. Dan sekadar Mengetahui akan segala rukun-rukun dan waktu serta berpakaian bersih dan mengetahui wajib dan sunat semata-mata ia untuk mendapat pahala. Maka amalan ini syirik semata-mata.
2. Sembahyang orang Mutawasit Menyempurnakan perintah Allah semata-mata hatinya berhadapkan Allah. Tiada ia mengira dosa dan pahala. Semata-mata ia berserah kepada Allah. Maka di atas amalan ini adalah lebih baik daripada yang pertama itu, tidaklah ia terkena syirik.
3. Sembahyang orang Mumtahi Tiada ia sembahyang dengan sebenar-benarnya melainkan Allah, kerana ditilik pada dirinya adalah golongan dhoif, fakir, hina dan lemah. Semata-mata pandangan di dalam sembahyang itu tiada dengan kehendaknya melainkan Kehendak Allah.
La' maujud bila' hakikat ilallah :
" Tiada maujud bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah ".
La' haiyyun bila' hakikat ilallah :
" Tiada yang hidup bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah ".
La' 'alimun bila' hakikat ilallah :
" Tiada yang mengetahui bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah ".
La' qadirun bila' hakikat ialallah :
" Tiada yang berkuasa bagi hakikat ku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah ".
La' iradatun bila' hakikat ilallah :
" Tiada yang berkehendak bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah ".
La' sami'un bila' hakikat ilallah :
" Tiada yang mendengar bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah ".
La' basirun bila' hakikat ilallah :
" Tiada yang melihat bagi hakikat ku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah ".
Wa la' mutakallimun bila' hakikat ilallah :
" Tiada yang berkata-kata bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah."
Maka inilah yang sebenar-benarnya sembahyang seperti sabda Abu Hurairah r.a. :
" Sembahyanglah kamu seperti Rasulullah SAW sembahyang katanya : Takbirlah kamu seperti Rasulullah SAW takbir. Qiyamlah kamu seperti Rasulullah SAW qiyam. Ruku'lah kamu seperti Rasulullah SAW ruku'. Sujudlah kamu seperti Rasulullah SAW sujud. Tahiyyatlah kamu seperti Rasulullah SAW tahiyyat. Salamlah kamu seperti Rasulullah SAW salam."
Begitulah seterusnya di dalam amalan. Janganlah sekali-kali kita buat tanpa mempelajari, nanti sia-sia saja amalan kita itu. Bak kata pepatah " Kalau berdayung biarlah di air. Lambat laun kita akan sampai jua". Maka sesudah kita ketahui akan segala rukunnya, maka wajiblah kita mengetahui akan makna dari "niat" terlebih dahulu. Sebab niat itu bukannya mudah untuk kita memahaminya. Kerena yang dikatakan niat itu ialah tiada berhuruf, tiada berupa dan tiada bersuara. Tidak ada "niat" yang dinamakan niat, jika menggunakan huruf yang dibaca. Jikalau ada suara boleh didengar. Jikalau ada rupa boleh dipandang. Jikalau dapat nyata ia di atas huruf, rupa dan ada suara, maka ini bukannya niat lagi. Seperti sabda Rasulullah SAW : " Qasdu syai-in muktarinan bi fiklihi " Artinya : " Mengeja sesuatu hal keadaan disertai dengan perbuatan." Dan satu lagi Hadis mengatakan : "An niatu bilqalbi bila' sautin wala' harfin" Artinya : " Bahwasanya niat itu di dalam hati, tiada suara dan tiada berhuruf ." Jika niat itu kita sebutkan kata di dalam hati, umpamanya tatkala mengatakan " Allahu Akbar " : Aku sembahyang fardhu Zohor atau fardhu Asar maka ini dinamakan dia niat 'arfiah. Inilah niat bagi kedudukan orang-orang awam yakni di atas mereka baru menuntut ilmu. Adapun yang dikatakan niat itu terbahagi ia kepada tiga :
1 - Qasad : Menyatakan pada " usalli fardhu " menandakan ada waktu pada hamba yang taat.
2 - Ta'rad : Menyatakan pada "arba'a raka'at" menandakan ada rukun, yakni bersedia hamba untuk menunaikan.
3 - Ta'yin : Menyatakan pada " Lillah Ta'ala " menandakan suruhan Allah yakni menghadapi kiblat hati.
Maka sesudah nyata Qasad, Ta'rad, Ta'yin berarti telah nyatalah kiblat dada kepada Baitullah. Kiblat hati kepada nyawa zat memandang zat. Sifat memandang sifat.
Barulah kita mengatakan " Allahu Akbar ". Serta hadir mata hati musyahadah kepada Zat Allah Ta'ala semata-mata. Maka ini barulah dinamakan niat. Seperti yang dinyatakan di dalam Hadis Imam al-Gahazali r.a. katanya, "Adapun kedudukan usalli, fardhu, rakaat, lillah ta'ala, Allahu Akbar." ialah seperti berikut :
- Usalli - maksudnya amanah Tuhan terhadap hamba, maka tatkala hambaNya telah menerima syariatNya, maka wajiblah kembalikan kepadaNya dengan keadaan yang sempurna.
- Rakaat - menyatakan hal kelakuanNya. Maka hilangkanlah kehendakmu di dalam halNya dan hapuskanlah fe'el mu di dalam kelakuanNya barulah sah amalannya.
- Lillahi ta'ala - menyatakan sirNya ( rahsia ). Maka fana'lah sir iktikad cinta rasa dan nafsu mu di dalam sir Allah. Barulah nyata ada kiblat bagi kamu.
- Allahu Akbar - menyatakan kaya Tuhan terhadap hamba. Karena hamba sampai kepada seruan Allah Ta'ala karenanya Allah Ta'ala esa, Muhammad yatim, hamba dhoif. Tiap-tiap yang datang mesti akan kembali. Maka kembali sekalian hamba-hamba itu di dalam seruan Allahu Akbar. Maka bergemalah suara-suara hambamu yang taat itu mengatakan dan memuji akan nama Allahu Akbar dan terlintaslah suara mu'minnya terus tujuh petala langit dan terus tujuh petala bumi. Maka bersahut-sahut akan roh-roh Anbia' dan Aulia' serta Malaikat dengan katanya, "Sejahteralah umat-umat mu ya Muhammad !".
4. Fardhu - sah dan nyata. Bersifat di atasnya hamba. Maka tiap-tiap yang bersifat hamba mestilah ada yang empunya hak. Maka kembalilah sifat-sifat mu kepada yang berhak. Cara-cara kembalinya kepada yang berhak,adalah dengan diwajibkan kepada fardhu. Tiap-tiap perbuatan ataupun amalan adalah dengan fardhu. Tanpa dengan niat fardhu perbuatan itu sia-sia saja. Maka tidak berartilah kamu beramal. Kerena fardhu itu berpandukan kepada sifat Wahdaniah. Kita mesti ketahui mana yang dikatakan fardhu sebelum fardhu dan mana yang dinamai fardhu di dalam fardhu dan di mana letaknya fardhu di akhir fardhu. Oleh karena itu kita seharusnya mencari kesimpulan ini jika kita mau sempurnakan amalan kita. Jalan sudah ada. Kepada saudara ku maka segeralah mencari maksud pengajaran ini.
Seperti yang sudah diketahui, " Fardhu " membawa maksud kepada " sah dan nyata ". Dan fardhu itu berpandukan kepada sifat Wahdaniah. Seperti yang diketahui pula, sifat Wahdaniah itu artinya Esa zat Allah Ta'ala, mustahil berbilang-bilang. Inilah yang wajib kita fahami mengapa sesuatu perbuatan yang wajib itu difardhukan. MAKSUD "Umpamanya kita mesti mengetahui mana dia yang dikatakan fardhu sebelum fardhu dan mana yang dikatakan fardhu di dalam fardhu dan di mana terletaknya fardhu diakhir fardhu ? " Aku sebenarnya ingin mengajak saudara kepada teori dan praktik di dalam sesutau amal perbuatan itu mesti disahkan dan nyata ilmu tersebut oleh guru dan ada kebenarannya di sisi Allah Ta'ala. Aku ingin mengambil satu contoh. Misalnya di dalam sholat, rata-rata kita mengetahui hukum-hukumnya seperti berdiri dengan betul hingga diakhiri dengan memberi salam. Semua orang yang beragama Islam pasti tahu aturannya, anak-anak sekolah dasar pun tahu bagaimana melakukan sholat. Sebelum sholat , terlebih dulu kita wajib berwudhu'. Bagaimana pula dengan niat berwudhu' ? Timbul lagi persoalan ! TETAPI apa yang saya maksudkan, sudahkah kita dapat petuah-petuah yang sebenarnya di dalam fardhu-fardhu tersebut ? Bagimana yang dikatakan berdiri betul, bagaimana yang dikatakan niat, seterusnya sehingga memberi salam. Ini yang saya hendak ingin untuk difahami. Perbuatan sholat tersebut yang wajib disahkan dan nyata !.
Kita sering menekankan persoalan berilmu dan beramal, yakni ilmu yang wajib disertakan dengan amal perbuatan. Kalau tidak amalan kita akan menjadi sia-sia. Bagi saya persoalan sholat itu adalah begitu penting. Dengan sebab itu, mendirikan sholat itu dikatakan sebagai tiang agama. Tapi bagi saya mendirikan sholat itu sebagai " Tiang Arash " ! Kenapa demikian ?, karena seperti yang sudah saya katakan pada saudara Habib bahwa "di dalam sholatlah kita boleh di-ISRA' dan di-MI'RAJ-kan. Kita boleh merasai pengalaman-pengalaman tersebut. Inilah yang dikatakan hakikat di dalam perbuatan sholat. Pengalaman yang bagaimana ? Hanya diri saudara-saudara ku sendiri yang boleh menjawabnya. Bukan diri saya, saya hanya sekadar " MERIWAYATKAN " amanah Allah SWT ! Sabda Rasulullah SAW : LA TASIHHU'L-SALATU ILLA BI'L-MA'RIFAH Bermaksud : " Tiada sah sholat melainkan dengan ma'rifat." AL-MA'RIFATU SIRRI Bermaksud : "Yang ma'rifat itu rahsiaku." Sebagai " Talib " yakni orang yang menuntut ilmu itu, kita akan melalui dua kategori iaitu :
1. SALIK
2. SALIK MAJZUB
Dengan sebab itu saya mengatakan, "setiap individu itu mempunyai satu Tuhan". Maksudnya " ma'rifat di antara kita ( setiap individu ) di dalam meng-ESA-kan Allah Ta'ala itu berbeda-beda." Perkara ini berpegang kepada pertanyaan yang diajukan oleh Saidina Abu Bakar As-Siddiq kepada Rasulullah SAW semasa baginda turun dari Mi'raj bertemu Allah Ta'ala. Tanya Saidina Abu Bakar kepada Rasulullah SAW, " Bagaimana engkau melihat dan kenal Allah Ta'ala, ya Muhammad ? Jawab Rasulullah SAW, "'Araftu rabbi bi rabbi!" yakni "Aku kenal Tuhan ku dengan Tuhan ku!" Sungguh simbolik, tetapi itulah jawapan yang paling mampu Rasulullah SAW gambarkan. Apabila lain dari pada Allah tiada dilihatnya, maka fana' hukumnya pada ibarat ini. Perkataan ini terlalu musykil. Oleh karena itu saudara-saudaraku hendaklah benar-benar tahkik mengetahuinya. Saudara Suluk dan Habib sendiri saya pasti bersedia maklum apa yang dikatakan atau bagaimana yang dikatakan "Kalam Allah" - "Tiada berhuruf dan tiada bersuara." Dengan sebab itulah Rasulullah SAW ditajallikan sebagai seorang hamba yang "Tiada tahu menulis dan tiada tahu membaca !" Di dalam konsep penerimaan wahyu oleh Rasulullah SAW sendiri, baginda "gemetar" untuk menerimanya dan lagi bagaimana untuk menyampaikan kepada ummat yang lain agar ummat-ummat ketika itu faham, tahkik dan boleh menerima setiap rahsia dan perkhabaran dari wahyu yang "Tiada berhuruf dan tiada bersuara." Itu ummat Islam generasi Rasulullah SAW ! Berhadapan ( berhadap terus ) dengan Rasulullah SAW ! Tiada hijab dengan Rasulullah SAW! Bagaimana pula dengan " Umat Muhammad Akhir Zaman" ? Bertumpuk-tumpuk hijabnya. Langsung tidak dapat " membayangi " kelibat Rasulullah SAW !
Orang Islam mempunyai 3 perkara yang mesti dimiliki :
1. ILMU
2. AMAL
3. IMAN
Sebelum menjadi seorang islam mesti lah memiliki ilmu ke islaman yang lengkap ,setelah lengkap dengan ilmu ,barulah beramal dengan ilmu itu,dengan beramal dengan ilmu, barulah datang iman,makam amal adalah ilmu makam iman adalah amal, dengan adanya ini barulah islam sejati, sama sama kita merenung sejenak,...:
Bermulanya usul ma'rifat ini ialah untuk mentakrifkan hal keadaan kita di dalam masa kita beramal. Sesudah kita faham di atas segala- gala rukun dan jalan-jalan di dalam hal keadaan agama Islam, barulah kita memulakan segala amalan. Seperti sabda Rasulullah SAW, ertinya : " Bermula sembahyang ( solat ) itu ada tiga bahagian :
1. Sembahyang orang-orang Mubtadi Yakni semata-mata ia untuk menutupkan fitnah dunia. Dan sekadar Mengetahui akan segala rukun-rukun dan waktu serta berpakaian bersih dan mengetahui wajib dan sunat semata-mata ia untuk mendapat pahala. Maka amalan ini syirik semata-mata.
2. Sembahyang orang Mutawasit Menyempurnakan perintah Allah semata-mata hatinya berhadapkan Allah. Tiada ia mengira dosa dan pahala. Semata-mata ia berserah kepada Allah. Maka di atas amalan ini adalah lebih baik daripada yang pertama itu, tidaklah ia terkena syirik.
3. Sembahyang orang Mumtahi Tiada ia sembahyang dengan sebenar-benarnya melainkan Allah, kerana ditilik pada dirinya adalah golongan dhoif, fakir, hina dan lemah. Semata-mata pandangan di dalam sembahyang itu tiada dengan kehendaknya melainkan Kehendak Allah.
La' maujud bila' hakikat ilallah :
" Tiada maujud bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah ".
La' haiyyun bila' hakikat ilallah :
" Tiada yang hidup bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah ".
La' 'alimun bila' hakikat ilallah :
" Tiada yang mengetahui bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah ".
La' qadirun bila' hakikat ialallah :
" Tiada yang berkuasa bagi hakikat ku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah ".
La' iradatun bila' hakikat ilallah :
" Tiada yang berkehendak bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah ".
La' sami'un bila' hakikat ilallah :
" Tiada yang mendengar bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah ".
La' basirun bila' hakikat ilallah :
" Tiada yang melihat bagi hakikat ku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah ".
Wa la' mutakallimun bila' hakikat ilallah :
" Tiada yang berkata-kata bagi hakikatku dengan sebenar-benarnya melainkan Allah."
Maka inilah yang sebenar-benarnya sembahyang seperti sabda Abu Hurairah r.a. :
" Sembahyanglah kamu seperti Rasulullah SAW sembahyang katanya : Takbirlah kamu seperti Rasulullah SAW takbir. Qiyamlah kamu seperti Rasulullah SAW qiyam. Ruku'lah kamu seperti Rasulullah SAW ruku'. Sujudlah kamu seperti Rasulullah SAW sujud. Tahiyyatlah kamu seperti Rasulullah SAW tahiyyat. Salamlah kamu seperti Rasulullah SAW salam."
Begitulah seterusnya di dalam amalan. Janganlah sekali-kali kita buat tanpa mempelajari, nanti sia-sia saja amalan kita itu. Bak kata pepatah " Kalau berdayung biarlah di air. Lambat laun kita akan sampai jua". Maka sesudah kita ketahui akan segala rukunnya, maka wajiblah kita mengetahui akan makna dari "niat" terlebih dahulu. Sebab niat itu bukannya mudah untuk kita memahaminya. Kerena yang dikatakan niat itu ialah tiada berhuruf, tiada berupa dan tiada bersuara. Tidak ada "niat" yang dinamakan niat, jika menggunakan huruf yang dibaca. Jikalau ada suara boleh didengar. Jikalau ada rupa boleh dipandang. Jikalau dapat nyata ia di atas huruf, rupa dan ada suara, maka ini bukannya niat lagi. Seperti sabda Rasulullah SAW : " Qasdu syai-in muktarinan bi fiklihi " Artinya : " Mengeja sesuatu hal keadaan disertai dengan perbuatan." Dan satu lagi Hadis mengatakan : "An niatu bilqalbi bila' sautin wala' harfin" Artinya : " Bahwasanya niat itu di dalam hati, tiada suara dan tiada berhuruf ." Jika niat itu kita sebutkan kata di dalam hati, umpamanya tatkala mengatakan " Allahu Akbar " : Aku sembahyang fardhu Zohor atau fardhu Asar maka ini dinamakan dia niat 'arfiah. Inilah niat bagi kedudukan orang-orang awam yakni di atas mereka baru menuntut ilmu. Adapun yang dikatakan niat itu terbahagi ia kepada tiga :
1 - Qasad : Menyatakan pada " usalli fardhu " menandakan ada waktu pada hamba yang taat.
2 - Ta'rad : Menyatakan pada "arba'a raka'at" menandakan ada rukun, yakni bersedia hamba untuk menunaikan.
3 - Ta'yin : Menyatakan pada " Lillah Ta'ala " menandakan suruhan Allah yakni menghadapi kiblat hati.
Maka sesudah nyata Qasad, Ta'rad, Ta'yin berarti telah nyatalah kiblat dada kepada Baitullah. Kiblat hati kepada nyawa zat memandang zat. Sifat memandang sifat.
Barulah kita mengatakan " Allahu Akbar ". Serta hadir mata hati musyahadah kepada Zat Allah Ta'ala semata-mata. Maka ini barulah dinamakan niat. Seperti yang dinyatakan di dalam Hadis Imam al-Gahazali r.a. katanya, "Adapun kedudukan usalli, fardhu, rakaat, lillah ta'ala, Allahu Akbar." ialah seperti berikut :
- Usalli - maksudnya amanah Tuhan terhadap hamba, maka tatkala hambaNya telah menerima syariatNya, maka wajiblah kembalikan kepadaNya dengan keadaan yang sempurna.
- Rakaat - menyatakan hal kelakuanNya. Maka hilangkanlah kehendakmu di dalam halNya dan hapuskanlah fe'el mu di dalam kelakuanNya barulah sah amalannya.
- Lillahi ta'ala - menyatakan sirNya ( rahsia ). Maka fana'lah sir iktikad cinta rasa dan nafsu mu di dalam sir Allah. Barulah nyata ada kiblat bagi kamu.
- Allahu Akbar - menyatakan kaya Tuhan terhadap hamba. Karena hamba sampai kepada seruan Allah Ta'ala karenanya Allah Ta'ala esa, Muhammad yatim, hamba dhoif. Tiap-tiap yang datang mesti akan kembali. Maka kembali sekalian hamba-hamba itu di dalam seruan Allahu Akbar. Maka bergemalah suara-suara hambamu yang taat itu mengatakan dan memuji akan nama Allahu Akbar dan terlintaslah suara mu'minnya terus tujuh petala langit dan terus tujuh petala bumi. Maka bersahut-sahut akan roh-roh Anbia' dan Aulia' serta Malaikat dengan katanya, "Sejahteralah umat-umat mu ya Muhammad !".
4. Fardhu - sah dan nyata. Bersifat di atasnya hamba. Maka tiap-tiap yang bersifat hamba mestilah ada yang empunya hak. Maka kembalilah sifat-sifat mu kepada yang berhak. Cara-cara kembalinya kepada yang berhak,adalah dengan diwajibkan kepada fardhu. Tiap-tiap perbuatan ataupun amalan adalah dengan fardhu. Tanpa dengan niat fardhu perbuatan itu sia-sia saja. Maka tidak berartilah kamu beramal. Kerena fardhu itu berpandukan kepada sifat Wahdaniah. Kita mesti ketahui mana yang dikatakan fardhu sebelum fardhu dan mana yang dinamai fardhu di dalam fardhu dan di mana letaknya fardhu di akhir fardhu. Oleh karena itu kita seharusnya mencari kesimpulan ini jika kita mau sempurnakan amalan kita. Jalan sudah ada. Kepada saudara ku maka segeralah mencari maksud pengajaran ini.
Seperti yang sudah diketahui, " Fardhu " membawa maksud kepada " sah dan nyata ". Dan fardhu itu berpandukan kepada sifat Wahdaniah. Seperti yang diketahui pula, sifat Wahdaniah itu artinya Esa zat Allah Ta'ala, mustahil berbilang-bilang. Inilah yang wajib kita fahami mengapa sesuatu perbuatan yang wajib itu difardhukan. MAKSUD "Umpamanya kita mesti mengetahui mana dia yang dikatakan fardhu sebelum fardhu dan mana yang dikatakan fardhu di dalam fardhu dan di mana terletaknya fardhu diakhir fardhu ? " Aku sebenarnya ingin mengajak saudara kepada teori dan praktik di dalam sesutau amal perbuatan itu mesti disahkan dan nyata ilmu tersebut oleh guru dan ada kebenarannya di sisi Allah Ta'ala. Aku ingin mengambil satu contoh. Misalnya di dalam sholat, rata-rata kita mengetahui hukum-hukumnya seperti berdiri dengan betul hingga diakhiri dengan memberi salam. Semua orang yang beragama Islam pasti tahu aturannya, anak-anak sekolah dasar pun tahu bagaimana melakukan sholat. Sebelum sholat , terlebih dulu kita wajib berwudhu'. Bagaimana pula dengan niat berwudhu' ? Timbul lagi persoalan ! TETAPI apa yang saya maksudkan, sudahkah kita dapat petuah-petuah yang sebenarnya di dalam fardhu-fardhu tersebut ? Bagimana yang dikatakan berdiri betul, bagaimana yang dikatakan niat, seterusnya sehingga memberi salam. Ini yang saya hendak ingin untuk difahami. Perbuatan sholat tersebut yang wajib disahkan dan nyata !.
Kita sering menekankan persoalan berilmu dan beramal, yakni ilmu yang wajib disertakan dengan amal perbuatan. Kalau tidak amalan kita akan menjadi sia-sia. Bagi saya persoalan sholat itu adalah begitu penting. Dengan sebab itu, mendirikan sholat itu dikatakan sebagai tiang agama. Tapi bagi saya mendirikan sholat itu sebagai " Tiang Arash " ! Kenapa demikian ?, karena seperti yang sudah saya katakan pada saudara Habib bahwa "di dalam sholatlah kita boleh di-ISRA' dan di-MI'RAJ-kan. Kita boleh merasai pengalaman-pengalaman tersebut. Inilah yang dikatakan hakikat di dalam perbuatan sholat. Pengalaman yang bagaimana ? Hanya diri saudara-saudara ku sendiri yang boleh menjawabnya. Bukan diri saya, saya hanya sekadar " MERIWAYATKAN " amanah Allah SWT ! Sabda Rasulullah SAW : LA TASIHHU'L-SALATU ILLA BI'L-MA'RIFAH Bermaksud : " Tiada sah sholat melainkan dengan ma'rifat." AL-MA'RIFATU SIRRI Bermaksud : "Yang ma'rifat itu rahsiaku." Sebagai " Talib " yakni orang yang menuntut ilmu itu, kita akan melalui dua kategori iaitu :
1. SALIK
2. SALIK MAJZUB
Dengan sebab itu saya mengatakan, "setiap individu itu mempunyai satu Tuhan". Maksudnya " ma'rifat di antara kita ( setiap individu ) di dalam meng-ESA-kan Allah Ta'ala itu berbeda-beda." Perkara ini berpegang kepada pertanyaan yang diajukan oleh Saidina Abu Bakar As-Siddiq kepada Rasulullah SAW semasa baginda turun dari Mi'raj bertemu Allah Ta'ala. Tanya Saidina Abu Bakar kepada Rasulullah SAW, " Bagaimana engkau melihat dan kenal Allah Ta'ala, ya Muhammad ? Jawab Rasulullah SAW, "'Araftu rabbi bi rabbi!" yakni "Aku kenal Tuhan ku dengan Tuhan ku!" Sungguh simbolik, tetapi itulah jawapan yang paling mampu Rasulullah SAW gambarkan. Apabila lain dari pada Allah tiada dilihatnya, maka fana' hukumnya pada ibarat ini. Perkataan ini terlalu musykil. Oleh karena itu saudara-saudaraku hendaklah benar-benar tahkik mengetahuinya. Saudara Suluk dan Habib sendiri saya pasti bersedia maklum apa yang dikatakan atau bagaimana yang dikatakan "Kalam Allah" - "Tiada berhuruf dan tiada bersuara." Dengan sebab itulah Rasulullah SAW ditajallikan sebagai seorang hamba yang "Tiada tahu menulis dan tiada tahu membaca !" Di dalam konsep penerimaan wahyu oleh Rasulullah SAW sendiri, baginda "gemetar" untuk menerimanya dan lagi bagaimana untuk menyampaikan kepada ummat yang lain agar ummat-ummat ketika itu faham, tahkik dan boleh menerima setiap rahsia dan perkhabaran dari wahyu yang "Tiada berhuruf dan tiada bersuara." Itu ummat Islam generasi Rasulullah SAW ! Berhadapan ( berhadap terus ) dengan Rasulullah SAW ! Tiada hijab dengan Rasulullah SAW! Bagaimana pula dengan " Umat Muhammad Akhir Zaman" ? Bertumpuk-tumpuk hijabnya. Langsung tidak dapat " membayangi " kelibat Rasulullah SAW !
Langganan:
Postingan (Atom)