Sabtu, 04 Desember 2010

APAKAH NABI SAW. MELIHAT ALLAH DALAM MALAM MI’RAJ


111. Masruq berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah r.a.:  Hai Ibu apakah Nabi Muhammad saw. telah melihat Allah?  Jawab Aisyah r.a. :  Sungguh berdiri bulu romaku sebab pertanyaanmu itu, dimanakah engkau dari tiga macam, orang yang menerangkan itu maka ia dusta:
1. Siapa yang menerangkan padamu bahwa Nabi Muhammad saw. melihat Allah, maka ia dusta. Lalu ia membaca : Laa tudrikuhul abshaaru wa huwa yudrikul abshaara wa huwal lathiful (Allah tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, dan Dia yang mencapai semua penglihatan, dan Dia maha halus kekuasaanNya yang maha mengetahui sedalam-dalamnya) dan ayat: Wama kana libasyarin an  yukallimahullah illa wahyan au min waraa’i hijab (Tiada seorang yang berkata-kata dengan Allah melainkan dengan wahyu atau dari balik tabir/hijab).
2. Siapa yang mengatakan bahwa ia mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, maka sungguh dusta, lalu dibacakan ayat : Wama tadri nafsun madza taksibu ghada (Dan tiada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari).
3. Dan siapa yang berkata bahwa Nabi Muhammad saw. menyembunyikan apa yang diwahyukan oleh Allah maka sungguh orang itu dusta, lalu Siti Aisyah membaca: Ya ayyuhar rasulu balligh maa unzila ilaika min rabbika (Hai utusan Allah sampaikanlah apa yang diturunkan oleh Tuhan kepadamu).
Tetapi Nabi Muhammad saw. telah melihat Jibril dalam bentuk yang sebenarnya dua kali.  (Bukhari, Muslim).

ORANG MUKMIN DI AKHIRAT PASTI DAPAT MELIHAT ALLAH SWT.


Abu Musa r.a. berakata: Rasulullah saw. bersabda : Ada dua buah Surga yang terbuat dari perak beserta wadah dan segala isi kandungannya, dan dua buah Surga yang terbuat dari emas beserta wadah dan segala isi kandungannya. Penghalang ahli Surga untuk memandang Rabb mereka hanyalah hijab Keagungan pada Wajah-Nya di Surga Adn.  (Bukhari, Muslim).

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ

 

ORANG MUKMIN DI AKHIRAT PASTI DAPAT MELIHAT ALLAH SWT.

Aisyah radliallahu ‘anhu berkata; “Barangsiapa yang mengatakan bahwa Muhammad saw. melihat Rabbnya berarti dia telah masuk pada persoalan (salah) besar. Akan tetapi Beliau melihat Jibril ‘alaihissalam dalam bentuk dan rupa aslinya yang menutupi apa yang ada di antara ufuk langit”. (Bukhari, Muslim).

عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْمَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ وَلَكِنْ قَدْ رَأَى جِبْرِيلَ فِي صُورَتِهِ وَخَلْقُهُ سَادٌّ مَا بَيْنَ الْأُفُقِ

 

 

KEPASTIAN ADANYA SYAFAAT DAN KELUARNYA ORANG YANG BERTAUHID DARI NERAKA

Abu Said Al-Khudri r.a. berkata: Nabi SAW. Bersabda: Akan masuk ahli surga ke surga, dan ahli neraka ke neraka, kemudian Allah memerintahkan: Keluarkanlah dari neraka orang yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari iman.  Lalu dikeluarkan mereka dalam keadaan sudah hitam warna mereka, lalu dimasukkan ke dalam sungai kehidupan (nahrul hayat), maka tumbuhlah mereka itu bagai biji yang tumbuh setelah ada air bah, dan tidaklah tumbuhnya berwarna kuning berbelit (berkait).  (Bukhari, Muslim).

Orang yang terakhir keluar dari Neraka

117. Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata:  Nabi SAW. bersabda:  Sungguh aku mengetahui orang-orang yang terakhir keluar dari neraka dan terakhir masuk surga. Ialah seorang yang keluar dari neraka sambil merangkak-rangkak, lalu diperintah oleh Allah:  Masuklah ke surga, maka ia segera pergi ke surga, tetapi terbayang padanya surga telah penuh, maka ia kembali dan berkata:  Ya Tuhan aku dapatkan sudah penuh.  Lalu diperintah lagi: Pergilah masuk surga.  Kemudian ia kembali berkata: Ya Tuhan, aku dapatkan surga sudah penuh, kemudian diperintah: Pergilah masuk surga, maka di sana untukmu seluas dunia sepuluh kali, atau, untukmu seluas dunia dan sepuluh kalinya,  maka ia berkata: Engkau mengejek dan mentertawakan aku sedang Engkau raja yang berkuasa.
Sungguh aku telah melihat Rasulullah saw. tertawa ketika menerangkan hadits ini sehingga terlihat gigi gerahamnya.  Dan itu serendah-rendah tingkat ahli surga.  (Bukhari, Muslim).

Allah menciptakan Jin dan Manusia hanya untuk menyembah kepada-Nya

Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku

Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku Adz Dzariyat : 56
Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku (Adz Dzariyat : 56)
Asal dari ibadah adalah menghinakan diri di hadapan yang disembah. Dan ibadah merupakan amalan yang disyariatkan oleh Allah. Definisi yang terbaik dari ibadah disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Al-Ubudiyah, “Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah dari perkataan dan perbuatan baik yang bersifat dhahir ataupun yang batin.”
Tanda bahwa sesuatu hal dicintai atau diridhai Allah :
  1. Diperintahkan
  2. Disebutkan pahalanya
  3. Anjuran untuk mengamalkannya
  4. Dikerjakan oleh Rasulullah dalam perkara ibadah, dll
Barang siapa yang beribadah kepada selain Allah berarti dia telah berbuat dhalim. Hal ini disebabkan karena Allah-lah Dzat yang telah menciptakannya, memberi rizki, dll tetapi dia malah memberikan ibadah kepada selain-Nya.
Di dalam ayat ini (Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku) ditujukan kepada kaum musyrikin jahiliyah dimana mereka telah meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang telah menciptakan mereka (Tauhid Rububiyah), untuk beribadah kepada Allah semata (Tauhid Uluhiyah). Disebutkan dalam ayat yang lain bahwa apabila mereka ditanya siapakah yang telah mencipatakan langit dan bumi maka tentunya mereka akan menjawab dengan pasti bahwa Allah yang telah menciptakannya. Maka dari keyakinan penciptaan inilah, Allah mengarahkan mereka untuk menetapkan Tauhid Uluhiyah.
Pelajaran penting
Maka ketauhilah wahai orang-orang yang telah berkeyakinan bahwa Allah yang telah menciptakan kalian, bahwa Allah memerintahkan kalian untuk beribadah kepada-Nya saja.
Hal yang demikian juga terdapat di awal surat Al Baqarah,
Wahai sekalian manusia beribadahlah hanya kepada Allah yang telah menciptakan kalian dan orang orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa
Wahai sekalian manusia beribadahlah hanya kepada Allah yang telah menciptakan kalian dan orang orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa (Al Baqarah : 21)
Penjelasan singkat :
  • Wahai sekalian manusia beribadahlah hanya kepada Allah = Tauhid Uluhiyah
  • Yang telah menciptakan kalian dan orang orang sebelum kalian = Tauhid Rububiyah
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (An Nahl : 36)
Penggunaan kata umat :
  • Kelompok = Sekelompok dari manusia
  • Imam = Sesungguhnya Ibrahim adalah ummah (Imam)
  • Millah = Bermakna ajaran atau agama. Perkataan orang musyrikin diantaranya, “Sesungguhnya kami telah mendapati nenek moyang kami di atas suatu ummah (ajaran, syariat, agama)”
  • Zaman = Terdapat dalam kisah Nabi Yusuf
Rasul adalah seorang laki-laki yang diberikan wahyu oleh Allah dan diutus kepada kaum yang menyelisihi apa yang telah dibawa oleh Rasul. Sedangkan nabi adalah laki-laki yang diberi wahyu oleh Allah dan diutus kepada kaum yang menyetujui dakwah mereka.
Semua Rasul mendapat perintah untuk pertama kali mengajak umatnya beribadah kepada Allah semata.
Beberapa hikmah di utusnya Rasul :
  • Menegakkan hujjah kepada hamba sehingga di hari akhir mereka tidak dapat mengelak lagi dengan alasan tidak mengetahui agama.
  • Sebagai rahmat untuk semesta alam, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan untuk menjadi rahmah bagi seluruh alam”.
Firman Allah,
Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Al Israa' : 23)
Terdapat dua pengertian Qadha :
  • Qadha Kauni : Ketetapan yang telah ditetapkan oleh Allah dalam permasalahan takdir
  • Qadha Syar’i : Ketetapan Allah dalam perkara yang disyariatkan, yang berarti Allah memerintahkan dan mewasiatkan
Pengertian wasiat dalam agama juga bermakna perintah. Contoh, “Aku (Rasulullah) wasiatkan (perintahkan) kalian untuk bertaqwa kepada Allah”
“Agar kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah”
Rukun syahadat ada dua :
  • Meniadakan : Meniadakan sesembahan yang berhak untuk disembah (ditunjukkan warna merah)
  • Menetapkan : Menetapkan hanya Allah yang berhak untuk disembah (ditunjukkan warna biru)
Contoh ketika kita mengatakan,
“Zaid ada di kelas” = Kalimat ini belum menunjukkan bahwa hanya Zaid yang ada di kelas, masih ada kemungkinan orang lain ada di kelas juga.
“Tidak ada seorangpun di kelas” = Kalimat ini menyatakan tidak ada orang di dalam kelas.
Maka ketika dua kalimat di atas digabung, kalimat “Tidak ada seorangpun di dalam kelas kecuali Zaid” akan memiliki makna yang sempurna bahwa hanya Zaidlah satu-satunya orang yang ada di dalam kelas.
Hal yang demikian banyak terdapat dalam syariat
  • Barang siapa yang mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah
  • Agar kalian jangan beribadah kecuali hanya kepada Allah
  • Dan sungguh telah kami utus rasul untuk setiap umat (agar menyeru) beribadahlah hanya kepada Allah dan jauhilah Thaghut
  • Tidak ada sesembahan kecuali Allah
“Dan apabila telah sampai kepada usia tua salah satu atau kedua orang tua kalian, maka janganlah kalian mengucapkan kata uf kepada mereka dan janganlah membentak mereka, berucaplah kepada mereka dengan perkataan yang mulia, dan rendahkanlah kepada mereka sayap kerendahan, dan katakanlah “Ya Rabb, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyanyangi aku”
[SND] 003. Bab Firman Allah Tidaklah Aku Ciptakan Jin dan Manusia ...2_080904 Qc-Ust Asykari.mp3 4.4M
Biografi ringkas: Al Ustadz Abu Karimah:
Beliau adalah pemimpin dari Pondok Pesantren Ibnu Qoyim di Balikpapan. Beliau merupakan alumni dari Darul Hadits di Dammaj, Yaman tempat Asy Syaikh Muqbil mengajar. Sering diundang ke Jawa untuk mengisi kajian.